SEJARAH AN-NUUR
Pengkajian Olah
Batin An-nur merupakan perkembangan dari ilmu tenaga dalam yang bernama MARGA
LUYU berasal dari daerah Jawa Barat, tepatnya dari desa Cicalengka yang
dipimpin oleh Bapak ANDA (Ma’af nama lengkapnya tidak tahu).
Pada Tahun 1964,
saya (Drs.H. Sumitro) di-ajak oleh Bapak Dan Suwarjono untuk ikut latihan Silat
Batin (istilah waktu itu) di Kota Wates Kulon Progo, Yogyakarta. Selama
beberapa minggu, setiap malam datang ke kota wates untuk latihan sampai selesai
sepuluh langkah gerak jurus dengan Bapak Saleh (pak Aleh) sebagai pelatih.
Latihan dimulai jam 20.00 sampai dengan jam 03.00 dini hari.
Untuk pembukaan,
sebagai langkah awal masuk pada Silat batin harus melakukan puasa tiga (3) hari
dan membawa bermacam-macam syarat antara lain: Uang keping, Kembang Setaman,
dan syarat-syarat lainnya. Prosesi pembukaan selesai dilanjutkan dengan latihan
seperti biasanya untuk memperkuat tenaga. Untuk kenaikan kejenjang tingkat yang
lebih tinggi sangat sulit ditempuh, karena banyak syarat yang harus dipenuhi.
Kami (Bpk. Drs. Sumitro) tidak sanggup melaksanakan.
Begitu sulitnya
untuk kenaikan tingkat, maka Bapak Dan Suwarjono mencari sumber ilmu ini, yang
kemudian diketahui berasal dari Cicalengka, Jawa Barat. Maka beliau datang
kesana dan diterima sebagai murid Bapak Anda. Selain itu juga di dapat
keterangan bahwa pak Aleh itu belum mendapat ijin untuk membuka.
Selama kurang
lebih tiga bulan bapak Dan Suwarjono tinggal di Cicalengka untuk menyelesaikan
latihan. Latihan dilanjutkan di Jogyakarta dan masih harus bolak-balik ke
Cicalengka. Setelah dianggap sempurna maka Bapak Anda memberikan ijin
(sertifikat) untuk melatih dan membuka di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Bapak Dan
Suwarjono memberikan tawaran kepada saya (Pak Mitro), orang pertama untuk ikut
bergabung, namun dengan syarat harus mulai dari awal. Latihan dimulai dari
gerak satu dengan ketentuan harus mencapai 24 (dua puluh empat) langkah dalam
satu nafas dan harus sempurna. Demikian seterusnya setiap gerakan harus selesai
24 langkah dalam satu nafas. Dan akhirnya dapat selesai dan di buka. Jadi
sayalah (pak Mitro) murid pertama Bapak Dan Suwarjono.
Setelah itu
banyak murid-murid baru yang bergabung seperti: Prof. DR. Ace Partadireja ,
Drs. Abdul Kadir, MA (mantan Rektor ASRI), Drs. Amri Yahya (Pelukis), dan Abdul
Aziz (Seniman), serta banyak murid kemudian.
Untuk mengikuti
Silat Batin itu disyaratkan harus seorang muslim yang aktif. Ada orang bali
yang kemudian masuk islam. Pada saat saya diangkat sebagai pelatih, banyak Pibu
(tanding) kami lakukan, seperti aliran Kuntau, Taichi, Silat Setrum, murid pak
Tino Sidin (Pelukis), Alhamdulillah pada waktu itu selalu di atas angin (menang).
Bahkan ada di antara orang yang pibu lalu ingin ikut latihan yang kebetulan
seorang Tionghoa, beragama non muslim. Kami (Pak Mitro) bolehkan dengan syarat
harus masuk islam dulu, dan dia mau. Akan tetapi dia mengajukan syarat tetap di
bolehkan makan daging Babi. Karena hal itu bertentangan dengan ajaran islam
maka kami tolak.
Pada saat
melakukan kegiatan latihan banyak bacaan atau do’a bercampur bahasa Jawa dan
Sunda, yang kadang kala kurang saya mengerti maknanya, sehingga lebih tepat
kalau itu disebut sebagai Mantera.Tenaga yang ada dapat disimpan pada benda
tertentu sempai pada batas waktu tertentu dengan menggunakan mantera tersebut.
Seiring dengan
perjalanan waktu pengikut latihan semakin banyak, dan kami sering melakukan
demonstrasi di depan orang lain, bahkan dihadapan para Tokoh Ulama pada saat
itu bertempat di Gedung Jogya Kembali dan di Pinulon. Tanggapan para ulama
adalah syirik dan ada kadhamnya/Jin penolongnya. Hal ini terjadi sekitar Tahun
1966 – 1967, dan pada tahun tersebut telah terbentuk Silat Batin ini dengan
nama PERANA SAKTI yang di ketuai oleh Bapak Dan Suwarjono. Kegiatan latihan
semakin aktif apa lagi banyak pengalaman dengan pertarungan melawan eks PKI dan
golongan GMN yang mengarah PKI juga. Alhamdulillah kami senantiasa dalam lindungan
Allah SWT, bahkan dengan kelompok tenaga dalam TEGOPATI (Salatiga), salah
seorang muridnya adalah Aspanudin Panjaitan (sekarang guru besar Perana Sakti)
bahkan akhirnya belajar pada saya.
Dengan
perkembangan ke ilmuan tersebut saya merasa senang dan juga takut. Senang
karena saya selalu menang dalam pibu, sedang takut karena bertanya-tanya:
Apakah ini islam atau berbajukan islam saja. Maka tahun itu saya lebih memilih
non aktif dan memikirkan akan kebenaran ilmu ini. Apakah sesuai dengan ajaran islam?
Keadaan ini juga diketahui oleh oleh Bapak Dan Suwarjono dan waktu itu (1967)
saya dipanggil oleh Bapak Dan Suwarjono di berikan penjelasan bahwa ilmu di
dasarkan dari ajaran islam. Alasan pokok yang saya pahami adalah:
a.
Di atas telah
kami jelaskan ada orang Bali masuk islam. Setelah selesai study di Yogyakarta,
ia kembali ke kampung halamannya. Di kampung halamannya dia tidak menjalankan
ajaran islam seperti halnya sholat. Suatu saat dia jatuh sakit yang cukup
parah. Berbagi pengobatan di lakukan sampai dengan petunjuk anggota keluarganya
untuk berobat ke Pedanda di Pura. Selanjutnya dia mendatangi Pedanda yang
di-anggap paling tua. Dihadapan Pedanda dia di-obati, Pedanda mengetahui bahwa
dia punya ilmu yang baik, namun dia tidak mengakui karena takut kalau dijauhkan
dari keluarga. Pedanda memberikan nasehat, dia akan sembuh apabila mengamalkan
ilmunya dengan baik, namun dia tetap tidak mau mengaku. Pedanda tersebut
membuka rahasia ilmunya, bahwa ilmunya tersebut didasarkan atas ajaran islm
dengan kalimat .............(Pedanda diam, tak dapat bicara seperti orang bisu)
sehingga ia takut. Sesampai di rumah dia mengaku bahwa dia telah memeluk agama
islam, beruntung keluarganya tidak marah, dan demi kesembuhannya dianjurkan
untuk melaksanakan seperti keyakinannya. Kemudian penyakitnya berangsur-angsur
hilang dan sembuh.
Setelah mendapat cerita itu kami berfikir, berdasarkan islam mengapa masih
mensyaratkan kembang segala? Perlu kiranya dilakukan permunian kembali. Hal itu
saya sampaikan kepada Bapak Dan Suwarjono yang saat itu baru mempelajari
tasawuf, beliau menyatakan setuju.
b.
Dari pengalaman
ternyata hampir semua yang mempelajari tenaga dalam pada umumnya mendasarkan
diri pada agama. Taichi pada agama Khong Hucu, Aikido pada Shinto, Yoga pada
agama Hindu, maka Islam sebagai agam yang sempurna pasti ada juga ha yang
demikian itu. Pada saat itu kebetulan saya sedang membaca buku shahih Muslim
jilid II, tentang pemuda perkasa yang pada intinya juga masalah kemampuan
supernatural itu.
Berdasarkan hal
tersebut di atas, saya memutuskan untuk mendalami ilmu ini dan keinginan tahu
makin menggebu pada diri saya. Lalu tak kenal lelah dan waktu itu saya latihan
melebihi batas. Sampai suatu saat saya mengalami hal yang belum di-alami orang
lain yaitu: Saya tidak bisa bergerak dan tidak bisa latihan lagi. Maka oleh
Bapak Dan Suwarjono dicari jalan keluarnya, latihan halusan sekitar Tahun 1970.
Ternyata baik dan bisa, bahkan tenaganya lebih hebat. Setelah itu di bawa ke
Cicalengka. Penemuan itu di-akui dan dikembangkan oleh Bapak Anda sebagi
tingkat lanjutan.
Apabila ilmu ini
islam, bagaimana bisa datang ke Jawa khusunya Indonesia umumnya? Kami
mengadakan penelitian berdasarkan cerita bahwa di Keraton Yogyakarta ilmu ini
dimiliki oleh para Raja dan tokoh-tokoh penting.
Hasil penelitian
dari beberapa orang yang dapat dipercaya terutama para tokoh keraton dan dari
hasil demonstrasi pada para ahli kebatinan di Yogyakarta, maka didapatkan kisah
dari mulut sebagai berikut:
”Ada dua orang
sakti mandraguna yang tidak mampu dikalahkan oleh para tokoh sakti di jawa. Dua
orang tersebut bernama SYAHBANDAR
dan ALMAHDI, maka atas perintah Raja
Mataram, diutuslah dua Abdi Dalemnya yang setia untuk mempelajari ilmu itu pada
orang tersebut samapi tuntas. Setelah tamat sua abdi dalem itu kembali ke
Keraton dan memberi pelajaran pada Raja beserta keluarganya. Ilmu ini tidak
boleh keluar dari Keraton. Tokoh yang paling terkenal adalah Sultan Agung.
Namun tidak berarti sultan lain tidak bisa.
Pada saat Mataram
melawan Belanda di Batavia, Mataram mengirim para perwira sakti untuk memimpin
perlawanan. Namun serangan itu mengalami kegagalan, dan para manggala tersebut
malu kembali ke Mataram dan takut kepada Raja Mataram. Mereka banyak menetap di
daerah Jawa Barat dan mengembangkan ilmu kadigdayaannya. Maka tak heran
bacaan/doa tersebut bercampur antara arab, jawa dan sunda”.
Hal ini juga sama
seperti yang di-ajarkan oleh Bapak ANDA yang kemudian diturunkan kepada Bapak
Dan Suwarjono, seterusnya disampaikan kepada saya sebagaian kecil, yang mana
membuat ragu pada diri saya waktu itu.
Sumber keilmuan
kami dapat temukan, maka saya bersama Bapak Dan Sawarjono bersepakat memurnikan
ilmu ini. Mantera yang tidak jelas sumbernya kami buang. Kegiatan yang kami
lakukan kami konsultasikan kepada Bapak ANDA di Cicalengka. Beliau tidak setuju
dan tetap menjalankan seperti yang telah dipraktekkan selama ini sampai
sekarang, yaitu membuat jimat, dan
memberikan sabuk bagi murid yang diberi hak membuka, termasuk kepada Bapak Dan
Suwarjono. Setelah kami yakin bahwa ilmu yang telah kami murnikan dengan
membuang hal-hal yang bertentangan ternyata mempunyai kekuatan yang lebih
(dilihat dari para ahli kebatinan: kami tidak mempunyai ilmu, akan tetapi kalau
dilawan dia tidak bisa berbuat apa-apa). Maka Sabuk yang diberikan dari Bapak
ANDA kami bakar dengan sebotol minyak tanah, namun tidak berhasil. Maka berdo’a
kepada Allah ta’ala, apabila sabuk itu pertanda syirik mohon dapat terbakar.
Alhamdulillah sabuk itu dapat terbakar dengan sebotol minyak tanah yang ke dua
dan sebelumnya tidak ada kekuatan yang menandingi terhadap sabuk itu.
Alhamdulillah tanda syirik telah tiada dan saya tidak mau menitipkan tenaga
kepada benda atau orang lain.
Keraguan terhadap
ilmu hilang dan kegiatan berlatih semakin giat. Tahun 1970 latihan dilaksanakan
di Gedung Jogya Kembali yang sebelumnya berlatih di gedung STO yang saat ini
dibangun dan digunakan Fak. Geografi UGM. Pada Tahun 1971 latihan di Pangti
(istilah tempat latihan di Jl. Kh. Ahmad Dahlan atau Jogya Kembali). Yang bisa
berlatih adalah Bapak Abd. Kadir (Rektor ASRI), Abdul Aziz Hartono, SH
(Notaris), Dr Harman dan yang lain kurang aktif. Saya tetap sebagai pembantu
pelatih bapak Dan Suwarjono.
Pada tahun ini
ada murid baru yaitu Abd Kadir dan Aspanudin Panjaitan. Ada kejadian lucu, Bapak Abd Kadir harus
berwudhu dahulu sebelum latihan, sedangkan Aspanudin harus bermandi janabat.
Ke-esokan harinya saya melapor kepada Bapak Dan Suwarjono bahwa ada murid baru
yang mau ikut latihan. Pak Dan tidak keberatan dan saya yang harus melatihnya.
Setelah selesai Bapak Dan Suwarjono tidak mau membuka Aspanudin, tetapi saya
yang disuruh membuka, pada hal saya belum merasa bisa, naum akhirnya di buka di
rumah Amri Yahya, bersamaan dengan Hamzah Teuku dan Ridwan (Karateka Dan I).
Dari ketiga murid itu hanya Ridwan yang mendapat perhatian khusus dari Bapak
Dan Suwarjono. Sedangkan Aspanudin dianggap murid saya.
Pada Tahun 1971
ini Bapak Dan Suwarjono tidak aktif lagi karena kesehatannya mulai terganggu.
Namun demikian sekitar Tahun 1977 masih ada juga beberapa orang belajar pada
beliau yang pada akhirnya semua diserahkan kepada saya. Setiap selesai latihan
saya selalu melapor untuk dilakukan pembukaan, akan tetapi Bapak Dan Suwarjono
selalu memberikan kepada saya untuk membuka, pada hal saya merasa belum bisa.
Pak Dan akan memberi petunjuk dan akan membantu, maka saya lakukan sesuai
arahan beliau terhadap Fauzi, Aspanudin yang saat itu telah mendirikan Perana
Sakti tanpa seijin Bapak Dan Suwarjono, dan beliau Marah Sekali, termasuk
kepada saya. Saya diminta untuk membubarkannya. Aspanudin tidak mau
membubarkan, akhirnya aku serahkan semuanya segala akibatnya.
Saat Bapak Dan
Suwarjono menderita sakit di rawat di Rumah Sakit, saya mengirimkan banyak buku
agama kepada beliau, antara lain: Hidup sesudah mati karangan Bay Arifin,
Samudra Alfatikhah, Keajaiban Hati karangan Imam Ghozali. Beliau senang dan
minta dicarikan yang lain sejenis. Beliau juga membaca Al-Hikam.
Sejak saat itu
penghayatan agama semakin mendalam dan setiap malam selalu berdzikir sampai di
dengar tetangga sebelah. Pada saat di Rumah Sakit Panti Rapih Beliau menilai
muridnya dari alam ghaib, hanya ada tujuh (7) murid yang baik sesuai dengan
ajaran islam termasuk saya. Dari tujuh orang itu ada yang keluar jalur dan ada
yang berhenti.
Setelah sembuh
beliau mutasi ke Jakarta menjadi dosen di FKJ dan juga menjadi wartawan untuk
Harian Berita melanjutkan dari
Yogyakarta. Pada saat itu saya sering dipanggil hanya untuk melatih temannya
angkatan laut yang bernama Kapten Supriadi dari Deplu bersama teman-temannya.
Pada Tahun 1983 kesehatan beliau mulai menurun, dan saya sering dipanggil ke
Jakarta. Kami berdua mendiskusikan tentang ilmu ini, kemudian beliau menanyakan
kemajuan serta pengalaman batin saya. Pada tahun 1984 beliau berpesan pada saya
untuk lebih giat berlatih sebab ilmunya akan diturunkan kepada saya, dengan
syarat saya harus puasa sunnah selama sepuluh (10) hari. Setelah selesai saya
berangkat ke Jakarta jam 10 pagi, saya di-ajak ke sebuah Masjid di Depok. Saya
sholat Tahiyatul masjid, kemudian shalat hajad, lalu pada saat itu diserahkan
kepada saya kunci pembuka. Sejak saat itu kondisi kesehatan beliau terus
menurun dan akhirnya menghadap sang Kaliq. Begitu saya mendapatkan kuncinya
teman-teman yang dahulu saya buka, aku buka kembali dengan kunci yang diberikan
saya.
Sesuai ijin dari
beliau yang diberikan kepada saya saja untuk daerah Yogyakarta. Kepada
murid-murid tahun 1977-1978 saya buka kembali. Peserta latihan semakin banyak,
ada kejadian di Palembang yang mengakibatkan urusan kepolisian, ada ketegangan
di gedung KAMI-KAPI Beskalan. Namun dari situ ada hikmahnya, saya dianjurkan
oleh DANDIM setempat untuk membentuk kelompok yang lebih tertib dan teratur
serta meminta ijin kepada kepolisian dan yang terkait. Atas kesepakatan dengan
teman-teman latihan maka dibentuklah suatu kepengurusan walupun belum ada
namanya. Kebetulan saya mempunyai anak yang baru lahir pada Tanggal 6 April
1979 dan diberikan nama Muhammad Annuur Wijaya Kesuma, maka pada Tanggal 6 Mei
1979 saya beri nama kelompok tersebut: KELOMPOK PENGAJIAN AN-NUUR,
dengan niat akan mengisinya dengan ceramah agama dan masalah pendidikan. Namun
setelah meminta ijin sampai beberapa lama tidak juga keluar, maka nama tersebut
atas kesepakan teman-teman kita ganti dengan Pusat Latihan Tenaga Dalam
An-Nuur, Yogyakarta. Ternyata masih tetap sulit mendapatkan ijin dari IPSI,
karena tenaga dalam tidak termasuk dalam katagori silat yang tidak mempunyai
jurus yang dipertandingkan. Ke PDK juga ditolak karena tidak mempunyai
kurikulum. Atas anjuran beberapa teman yang tahu tentang seluk beluk perizinan
di Kejaksaan, maka nama itu dirubah lagi pada Tahun 1985 menjadi PENGKAJIAN OLAH BATIN AN-NUUR YOGYAKARTA.
Dikarenakan olah batin termasuk bidang PAKEM, maka Kejaksaan Yogyakarta
mengeluarkan izin dengan nama yang dipakai sampai sekarang. Tujuan Kajian olah
Batin ini tetap untuk MEDIA DAKWAH dan untuk menunjang penghayatan dalam bidang
agama harus ada pengajian atau ceramah agama yang berdasarkan Al-Qur’an dan
Al-Hadits. (di ketik ulang dari Drs. H.
Sumitro)
Saya pernah ikut pengajian dan berlatih dg pak mitro th 88. Tapi saya kehilangan contact dg annur
BalasHapusSaya pernah ikut juga pengkajian dan berlatih pada 89 sd 90 an berlatih sama teman saya haryadi dari UII sampai saat ini lost contact semoga bisa jalan untuk menyambung silaturahmi ( isyulianto ) belajar di gedung SGO yogyakarta
BalasHapus